Nusagatizen

Dawuh Habib Luthfi Tentang Pancasila dan Nasionalisme

Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan 9 pokok bahasan penting mengenai Pancasila dan Nasionalisme. Hal ini tentu menjadi penambah daya semangat bagi para pecinta sekaligus pengamal pancasila dan pejuang nasionalisme di tengah-tengah kegaduhan yang dipicu oleh sekelompok oknum yang tidak suka pancasila sebagai dasar dan lambang negara.

Semangat nasionalisme habib Luthfi sangat tinggi. Bahkan! Semangat nasionalisme itu tampak ketika beliau berfoto bersama raja Salman beserta tamu undangan negara ketika raja Salman berkunjung ke Indonesia beberapa bulan yang lalu. Nasionalisme itu tampak dari pakaian serta peci hitam yang dikenakannya yang merupakan ciri khas budaya bangsa Indinesia.

9 dawuh habib Luthfi bin Yahya mengenai Pancasila dan Nasionalisma tersebut bisa di baca di bawah ini:

  1. “Saya salut banyak bendera Merah-Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air. Dalam Merah-Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?”
  2. “Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda.”
  3. “Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama.”
  4. “Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa.”
  5. “Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw. mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI.”
  6. “Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya.”
  7. “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam’iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik.”
  8. “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran.”
  9. “Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral ‘ini’ adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun.”

Sumber: http://pustakamuhibbin.blogspot.co.id/2016/06/9-dawuh-habib-luthfi-tentang-pancasila.html

Tahukah Kamu Arti biji?

bi·ji1 n 1 isi buah (yang apabila ditanam dapat tumbuh): -- nangka; -- mangga; 2 butir buah yang kecil-kecil (seperti butir padi dan jagung): -- kacang; -- kedelai; 3 kata penggolong bagi bermacam-macam benda sebagai pengganti butir, buah, batang, dan sebagainya: ia makan mangga lima --; ia mempunyai lima -- mata pena;menabur (menanam) -- atas batu, pb sia-sia belaka, seperti memberi nasihat kepada orang yang tidak mau mengindahkan;
-- kemaluan buah pelir;
-- mata 1 bulatan (dalam rongga mata); 2 ki yang tercinta (anak dan sebagainya); kekasih;
-- ratap 1 ki titik-titik air mata (waktu menangis); 2 buah ratap; isi ratap;
-- saga biji berwarna merah yang dahulu dipakai sebagai kesatuan bobot emas;

ber·bi·ji v ada bijinya; mempunyai biji: buah nenas termasuk buah tidak -;

bi·ji-bi·ji·an n buah yang berbutir kecil-kecil seperti padi, jagung, kacang; berjenis-jenis biji
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close