Nusagatizen

Ceritaku 6 Jam Bersama Uber

Uber merupakan moda transportasi andalan ketika aku ada keperluan di Jakarta. Karena mobilitas di Jakarta yang cukup tinggi dan tidak membawa kendaraan sendiri, maka layanan transportasi umum menjadi pilihan dan Uber lah yang menjadi pilihan utama untuk sementara ini.

Cerita yang akan kubagikan ini terjadi 2 hari yang lalu, Selasa 21 Februari 2017, bersama seorang teman.

Pagi itu, usai menginap di tempat teman, temanku memesan Uber dari Univeritas Budi Luhur. Tujuan kami adalah ke Senayan. Di tengah guyuran hujan, kami menunggu driver di sebelah jembatan dekat Universitas Budi Luhur. Beberapa menit kemudian, driver datang dan kami pun bergegas naik.

Pagi itu, suasananya sungguh tidak enak. Jalanan yang kami tempuh tampak begitu macet. Aku pun tak menduga kemacetan akan semakin parah ketika sampai di Cileduk.

Ketika di Cileduk, pergerakan mobil yang kami tumpangi sangat lambat. Maju beberapa meter kemudian berhenti lagi. Begitu seterusnya. Di tengah-tengah kemacetan, driver meminta izin ke toilet sebentar jika sampai di sebuah fasilitas umum di depan. Namun, laju kendaraan yang begitu lambat membuatnya harus menahan sampai kurang lebih satu jam. Padahal jarak fasilitas umum tersebut dari kami hanya beberapa meter saja. Ketika sudah melewati kemacetan, kulihat di depan tengah terjadi banjir. Banjir itulah yang menyebabkan macet. Kulihat banyak orang berkerumun mengambil foto banjir tersebut. Seorang pengatur lalu lintas menyarankan kami balik arah kalau ragu untuk menerjang banjir. Meskipun rute yang akan kami jalani semakin jauh, driver memutuskan untuk balik arah.

Rute balik arah tidak macet. Rasanya sangat lega setelah terjebak macet hampir 3 jam untuk jarak tempuh yang bisa ditempuh dengan kondisi normal hanya 40 menit saja. Namun, apesnya, ketika sampai di Senayan, kemacetan itu terjadi lagi. Kulihat sedang ada demo. Kutanya temanku demo apa, katanya, itu demo 212. Masak demo yang katanya untuk kebaikan kok malah merampas kenyamanan orang lain, batinku.

Kami sampai di tujuan menjelang adzan dhuhur. 3 jam perjalanan. Kami meminta driver untuk menunggu karena agenda di Senayan hanya sebentar. Driver pun menyarankan kami untuk mengubah rute perjalanan ke perjalanan selanjutnya. Kami pun mengikutinya. Setelah itu kami menemui seseorang yang telah menunggu sejak pukul 10.

Usai menyelesaikan agenda di Senayan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Kami harus melewati kerumunan pendemo yang tergabung dalam aksi 212. Perlahan-lahan mobil yang kami tumpangi melaju hingga akhirnya terbebas dari kemacetan.

Akhirnya kami sampai di tujuan ke dua. Sebenarnya, kami meminta driver menunggu kami lagi, namun karena alasan mau menjemput istri, dia meminta kami untuk order driver yang lain saja. Kami pun menurut. Perhalanan kami diakhiri. Namun, alangkah kagetnya ketika melihat tagihan yang harus kami bayar sebesar Rp. 657.000.00. Kami sempat mengajukan keberatan. Perhalanan dari Univerritas Budi Luhur ke Senayan dilanjut ke Mampang Prapatan kok bisa segitu tingginya, gerutu kami.

Kami mengajukan keberatan kepada driver atas tarif yang dikenakan pada kami. Dia pun sebenarnya menyetujui dan mempersilahkan kami untuk membayar separohnya saja. Namun, karena kami tahu itu bukan kesalahan driver, kami membatalkan keberatan. Kami akan tetap membayarnya hanya saja sisanya ditransfer karena kebetulan waktu itu kami hanya membawa cadangan cash sedikit. Driver pum menyetujuinya. Kami pun meminta nomer rekening dan screenshot bukti tagihan driver.

Tagihan uber yang harus kami bayar
Tagihan uber yang harus kami bayar
Rincian Biaya Uber Yang Harus Kami Bayar
Rincian Biaya Uber Yang Harus Kami Bayar

Setelah melihat rincian tersebut, kami baru tahu kalau ada perbedaan harga yang cukup tinggi antara jam-jam macet (rush hours) dengan jam normal. 

Maafkan kami yang sempat menolak bayar, pak driver. Kami belum tahu rumus yang digunakan uber. Tapi, itungan jam macet dikali 3 itu cukup membuat kami tersenyum kecut. Aku tidak tahu kalau naik bemo, kopaja, atau moda lainnya apa juga diberlakukan biaya khusus untuk jam-jam macet. Mungkin lain kali nyoba angkutan tersebut dan mengomparasikan harganya biar gak penasaran. 😅 Dah Gitu aja.

Cheers
Nusagates

Tahukah Kamu Arti ejan-2?

ejan2 Mk v, meng·e·jan v 1 memaksa (memaksa-maksa); 2 mencari (mencari-cari);

meng·e·jan-e·jan v mengejan
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close