Nusagatizen

Bungaku Sayang Sedang Layu

Malam bulan purnama datang dan pergi silih berganti. Bila kuhitung, bilangannya mencapai puluhan namun, dirimu tak terganti. Tetap setia di sini, bersamaku mengusung rindu dan menyulam senyum simpul nan indah untuk dipandang. Aku menyukainya.

Penunjuk waktu itu, yang kita pasang di atas meja kamar, sebenarnya aku tidak membutuhkannya lagi. Dirimu lebih jeli dalam menunjukkanku tentang waktu. Aku tak perlu mengatur petunjuk waktu itu kapan harus membangunkanku. Dirimu lebih tau apa yang perlu kulakukan. Kapan harus istirahat, kapan harus bangun, kapan harus minum obat, kapan harus mandi, dan lain sebagainya. Aku merasa tak memerlukan lagi petunjuk waktu itu namun, benda itu mengingatkanku tentang masa lalu. Masa ketika aku melamunkan tentangmu meskipun aku belum mengenalmu. Benda itu mengingatkanku akan kekuatan cintaku padamu sebelum aku tahu namamu. Benda itu yang dulu menemaniku dan mengatur waktuku untuk mencurahkan perasaan rinduku padamu kepada  Sang Maha Cinta menjelang subuh tiba.

Benda itu kurasakan sangat berharga waktu itu. Waktu dirimu belum bersamaku. Ketika jalinan cinta kita masih berupa lembaran-lembaran sekenario Ilahi yang belum kita ketahui untuk dijalani.

Benda itu, sekarang, tampak tak berguna lagi untukku. Jarumnya selalu berputar untuk menunjukkan waktu namun, ia tidak tahu siapa yang mau diberinya petunjuk. Dirimu telah mengambil alih bagiannya. Meskipun begitu, aku tak akan membuangnya. Biarkan ia di situ menjadi saksi perjalanan kisah kita. Detik-demi-detik kisah kita akan ia catat untuk menjadi bahan persaksiannya dihadapan Sang Maha Cinta atas kisah kita.

Hari ini, dirimu tampak layu. Tiba-tiba saja dirimu tak mampu menggendong si K. Sekedar menoleh saja tampak butuh perjuangan yang sangat berat. Dirimu pun memintaku untuk memijit bagian tubuhmu yang sakit namun, aku tak tahu bagaimana cara memijitnya. Sebuah sentuhan saja membuatmu kesakitan. Lalu bagaimana dengan pijitan? Ini di luar kemampuanku. Tidak semua hal di dunia ini bisa kukuasai. Dirimu pasti tahu itu.

Dirimu benar-benar layu. Belum genap sebulan kau mengeluhkan pendengaran, kau pun mengeluhkan penglihatanmu. Belum genap sebulan kau mengeluhkan penglihatanmu, kau pun mengeluhkan tenggorokanmu. Baru kemarin kita memeriksakan tenggorokanmu, hari ini kau mengeluhkan punggungmu. Aku benar-benar merasa tak mampu menjagamu. Sebegitu beratkah beban yang kau tanggung hingga dirimu tak kuasa menahannya? Maafkan aku. Maafkan diriku.

Aku tahu dirimu sedang layu. Aku tahu dirimu tak mampu memenuhi sebagian kewajibanmu. Aku tak akan membuangmu untuk  berpaling kepada bunga segar nan harum lainnya. Kesetiaanku padamu jauh melampaui kekuatan ikatan emosiku dengan penunjuk waktu itu. Kau jauh di atas mereka. Kau jauh di atas segalanya.

Engkaulah sang pemimpin utama yang sangat sesuai dengan arti namamu. Engkaulah pujaan, idaman, dan telah kudambakan sejak dulu. Penunjuk waktu itulah saksinya.

Semoga cepat sembuh dan kembali segar sehingga bunga-bunga senyuman yang indah bermekaran di bibirmu. 😉😚

N^A = K
tapi kalau ini N^{-A \frac {1}{3}} = ? 😉😂😂

Cheers
4n0n1m0u5

Tahukah Kamu Arti sengguk-2?

seng·guk 2 Jw, se·seng·guk·an v tersedu-sedu; tersedan-sedan: ia menangis - setelah mendengar kabar bahwa ia tidak lulus ujian;seng·gak-seng·guk v sesenggukan; tersedu-sedu;ter·seng·guk-seng·guk v sesenggukan
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close