Nusagatizen

Budaya Menyindir di Facebook

Facebook adalah alat sosial yang banyak diminati oleh sebagian besar pengguna internet di Indonesia. Meskipun kecenderungan trends orientasi penggunaan Facebook banyak yang berganti untuk tujuan marketing atau memasarkan produk dan/atau untuk mecari earning dari trafik yang dihasilkan dari Facebook, pengguna Facebook lugu yang masih bertahan menggunakan Facebook (facebook-an) untuk tujuan melakukan interaksi sosial–mencari teman–mencari pacar–dan serentet aktivitas sosial lainnya tetap masih ada.

Pergeseran orientasi pengguna serta meluasnya orientasi penggunaan Facebook memanglah suatu keniscayaan mengingat pengguna Facebook terdiri dari beragam suku, karakter, bangsa, bahasa, agama, dan negara. Faktor pendapatan juga memiliki pengaruh pada nilai orientasi meskipun tidak bisa digeneralisasi besar atau kecilnya faktor tersebut.

Melihat peningkatan pengguna Facebook yang signifikan pada tiga tahun terakhir, aku tertarik untuk mengamati pola perilaku pengguna Facebook yang identik antara pengguna yang satu dengan pengguna yang lain. Aku pun membuat lebih dari satu akun Facebook dengan target pertemanan yang berbeda-beda. Ada yang campuran, ada yang khusus remaja usia adolesen, ada yang khusus mahasiswa, dan lainnya. Hal itu bertujuan untuk memetakan gaya interaksi sosial masing-masing kelompok yang dilakukan melalui akun Facebook.

Ketika pihak Facebook dikabarkan bahwasannya mereka telah menggunakan penggunanya sebagai objek eksperimen sosial tanpa memberitahu mereka atau meminta kesediannya beberapa waktu yang lalu, aku tidak merasa kaget. Karena pola yang kugunakan hampir mirip hanya beda teknik saja.

Hasil pengamatan yang kulakukan memberikan beberapa simpulan. Pada kesempatan kali ini, simpulan yang akan kusampaikan adalah kecenderungan pengguna Facebook untuk menyindir pengguna lain melalui status yang dibuatnya. Kecenderungan ini tampak dilakukan oleh pengguna Facebook lintas kelompok usia, pendidikan, maupun kelompok lain yang berhasil kutangkap melalui beberapa akun Facebook yang kubuat untuk melakukan pengamatan. Kecenderungan lintas kelompok ini kemudian kuistilahkan dengan budaya menyindir di Facebook untuk memudahkan penyampaian.

Contoh budaya menyindir bisa dilihat seperti uraian di bawah ini:

Seorang pengguna Facebook mengetahui teman wanita yang beragama Islam tidak mengenakan jilbab kemudian ia menulis status, “Ngaku muslimah tapi tidak berjilbab itu ibarat ngaku mahasiswa tapi tidak pernah kuliah”. Dengan sindiran itu ia berharap orang yang disindir yang juga temannya di Facebook membacanya kemudian mau menggunakan jilbab.

Seorang pengguna Facebook melihat teman wanita suka upload foto selfi menggunakan pakaian ketat dan jilbab minimalis kemudian ia membuat status, “cewek jaman sekarang itu suka banget pamer tubuh. Katanya muslimah tapi pakai pakaian ketat dan jilbab modis yang gak sesuai aturan Islam. Malu-maluin aja”.

Seorang pengguna Facebook melihat temannya menggunakan pakaian longgar dan jilbab pasmina biasa. Ia kemudian membuat status, “Tadi habis reunian ketemu temen sekelas dulu. Alhamdulillah dia sekarang berjilbab. Tapi alangkah indahnya jika ia mau menggunakan jilbab dengan benar. Jilbab panjang yang sesuai syar’i.”.

Seorang pengguna Facebook entah iseng atau bagaimana membuat status yang menurutku juga termasuk pada ranah sindiran, “Sekarang banyak yang berbondong-bondong menggunakan jilbab yang katanya syar’i. Jilbab syar’i itu yang gimana to? Apakah jilbab lebar-lebar yang sampai pantat itu, ataukah yang ada label halalnya, atau yang dikenakan ustadzah modis di tivi-tivi itu? Apakah jilbab syar’i menurut madzhab imam Syafi’i berbeda dengan jilbab syar’i menurut madzhab hanafi atau imam lainnya? Atau beda juga jilbab syar’i menurut ulama Saudi Arabia dengan jilbab Syar’i menurut ulama Mesir? Kok ada yang bilang jilbab ini syar’i tapi menurut lainnya tidak. Jadi mana yang jilbab syar’i?”.

Seorang pengguna Facebook melihat presiden disalami oleh seorang bapak yang tampak lebih tua kemudian ia membuat status dengan gambar presiden sedang disalami bapak tua yang dilingkari garis merah, “Kalau presiden tau adab tentu dia yang menyalami bapak itu bukan sebaliknya”.

Seorang pengguna Facebook melihat ustadz terkenal makan sambil ngobrol kemudian ia membuat status dengan membagian video ustadz tersebut yang sedang makan dan sambil ngobrol, “alangkah baiknya kalau ustadz menghabiskan makanan dulu baru ngobrol. Si pengambil video gak tahu sopan santun apa? Masak ustadz lagi makan divideo. Ini bisa jadi senjata bagi pembenci Islam untuk mengolok-olok ustadz”.

Seorang guru yang menentang kebijakan sekolah membuat status, “Nasibe wong cilik. Hanya bisa pasrah mengikuti komando. Kalo gak gitu ya siap-siap aja dipecat”.

Itu adalah beberapa contoh status yang bernada sindiran kuambil dari beberapa akun lintas kelompok. Status itu sebagian kuubah kalimatnya untuk menghaluskan bahasa karena sebagian status mengandung ujaran kebencian yang mengarah ke penyerangan personal.

Semoga catatan ini tidak menginspirasi untuk improvisasi status sindiran yang lebih mengena dan menyakitkan hati. Kalau ada hal yang kurang baik mari didiskusikan secara bijak. Kalau masuk ke ranah privat mari saling menasehati dari hati ke hati secara privat juga.

Tahukah Kamu Arti aksiomatis?

ak·si·o·ma·tis a dapat diterima sbg kebenaran tanpa pembuktian; bersifat aksioma
Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close