Uncategorized

Bolehkah Menjadi Istri yang Pencemburu?

Wong cemburuan ki cepet pikun,” dhawuh yai, orang yang cemburuan cepat pikun.

Wah, repot. “Lha, masa mboten pareng cemburuan, Yai?”

Yai hanya tersenyum mendengar reaksiku, masa tidak boleh cemburu? Diam begini, aku termasuk golongan pencemburu berat. Jangankan jalan berdua dengan perempuan lain, sekedar bercanda akrab dengan perempuan pun aku diam-diam manyun. 
Kulo cemburuan, Yai. Repot.” ujarku saat itu, sekitar satu bulan sebelum aqad nikah.
Lagi-lagi, lelaki dengan senyum khas-nya itu hanya berdehem. Mengusap wajah beliau dengan surban. Aku salah tingkah, keceplosan curhat saat membahas Kitab Maratus Sholikhah sering terjadi.
“Hmm, boleh, tetapi tidak berlebihan.”
Perbincangan tentang cemburu ini terus berlanjut, beliau menuturkan keadaan-keadaan dimana istri boleh cemburu, pun situasi dimana istri tidak diperkenankan menampakkan rasa cemburu yang berlebihan karena dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya dalam rumah tangga.

Situasi yang Membolehkan Cemburu

Ada beberapa siuasi yang membolehkan istri cemburu kepada suami yang pada dasarnya bermuara pada satu pokok; saat suami melupakan perintah dan melanggar larangan Allah. Sebagai contoh, suami lalai sholat wajib, suami terlalu akrab dengan perempuan lain, hehehe, suami lebih mencintai manusia daripada Rabb-nya, termasuk ketika suami lebih mencintai istri daripada Rabbnya.

Cemburu yang Membahayakan
Cemburu yang berlebihan dan tidak pada tempatnya bisa membahayakan keberlangsungan keluarga. Sebagaimana api, jika mampu mengatur sesuai porsinya, maka akan membantu hajat manusia. Tetapi, jika tidak mampu mengendalikan, api tersebut menjadi sangat berbahaya. Cemburu yang membahayakan antaralain;

  1. Cemburu dengan Mertua atau Saudara Suami
  2. Sebagai anak laki-laki, suami mempunyai kewajiban untuk tetap bertanggung jawab atas kedua orangtua dan keluarganya. Tanggung jawab ini tidak bisa diabaikan meskipun anak laki-laki tersebut sudah menikah. Setelah menikah, seorang anak laki-laki tetap menjadi milik kedua orang tuanya. Lain dengan perempuan, ketika perempuan sudah menikah, dirinya adalah milik suaminya. Sangat penting bagi istri untuk memahami tentang hal ini, membantu suami untuk tetap melaksanakan perintah-Nya adalah slah satu kewajiban seorang istri terhadap suami. Jangan sampai menjadi istri yang menghalang-halangi suami untuk melaksanakan kewajibannya.

  3. Cemburu yang Berlebihan terhadap Suami
  4. Cemburu yang berlebihan akan menyebabkan suami merasa tertekan, tidak dipercaya dan hilang semangatnya untuk menjalani urusan yang lain. Bagaimana tidak, sedang berurusan dengan pekerjaan, istri malah kepo-kepo tentang apa yang dikerjakan oleh suami. Ada panggilan atau sms dari rekan kerja, istri sudah curiga. Tipikal istri seperti ini, dhawuh yai, bukannya menjadi penenang hati suami, tetapi malah menjadi pengganggu yang harus ditumpas.

Sedikit catatan hasil perjalanan ngaji, sebagai pengingat untuk diri sendiri. Semoga kita bisa menjadi istri yang menyejukkan hati suami, ya, Mak.

Penulis
Widi Utami

Tinggalkan Balasan