Uncategorized

Betapa Susahnya Menjadi Pembaca Sekaligus Penulis di Mojok |

Terus terang saja, ini sudah ke-empat kalinya saya mengirim tulisan di Mojok, setelah yang ketiga sebelumnya ditolak secara halus, sehalus pipi Otong Koil. Sudah e-mail tak dijawab, tulisan tak dimuat, honor tak ditransfer pula. Tapi, ah, saya tidak sendiri. Betul, kan? Saya, sih, berharap, mumpung belum masuk tahun 2016, kali ini mas-mas di Mojok berkenan memuat tulisan saya biar bisa berdampingan dengan tulisan para begawan seperti Mas Agus Mulyadi atau gelandang (sekaligus ustadz) serba bisa, Kak Iqbal Aji Daryono.

Bukannya apa-apa, tapi saya kok punya firasat kalau Mojok ini bakal mengalahkan Tempo dalam beberapa musim cherry ke depan. Seperti kata Gus Candra Malik yang sempat nulis di Mojok juga, derajat Mojok lebih tinggi lho dari (catatan) pinggir. Kalau Kompas sih jelas kalah, Mas, apalagi setelah Pak Wiranto yang (tidak) sedang menyamar itu salah tulis sila ke-empat Pancasila dalam artikel opininya.

Tolong dicamkan terlebih dahulu: Saya bukan sedang caper lho ini. Saya hanya sedang mewanti-wanti, sebab kalau Mojok sudah mengalahkan Tempo dan Kompas, tentunya makin banyaklah saingan saya dan yang lain untuk menulis di Mojok. Sampeyan semua yang di Mojok apa tega bangsa ini semakin kehilangan tradisi membaca dan menulis, lalu pada saat bersamaan juga kehilangan kami para patriot Mojok ini?

Dalam tulisan ini saya ingin (sok) mewakili para penulis yang tulisannya gagal tembus di Mojok. Ya, katakanlah saya ini semacam kurir penyampai curhatan mereka yang tak pernah berhasil menayangkan tulisannya di Mojok. Cuma curhatan, lho, bukan pledoi, karena pledoi sudah jadi milik Pak SN. Ingat, sekali lagi, ini bukan caper lho, mas ganteng sang gelandang pengangkut air (mata).

Curhatan pertama ini berupa pertanyaan: Bagaimana nasib tulisan-tulisan kami yang gagal kirim itu? Apakah tulisan kami senasib dengan rilisan album Pak SBY atau seperti strategi filosofi Van Gaal di Manchester United yang banyak orang gagal mengerti itu?

Walaupun tulisan kami jelek-jelek begitu, kesetiaan menjadi pembaca Mojok, sih, jangan ditanya, Mas. Kami jauh lebih sering menongkrongi tulisan dan kolom komentar di Mojok, bahkan jika dibandingkan kuantitas shalat Jumat sekalipun. Tapi, ya, rasanya memang sulit menjadi pembaca sekaligus penulis Mojok. Mungkin sama sulitnya menjadi pengusaha sekaligus menjadi ketua DPR. Eh.

Curhatan kedua, mungkin berkat virus menulis dan membaca dari Mojok, hingga tempat nongkrong hipster sekelas Pasar Santa sampai rela bikin toko buku bernama Post Santa (mungkin ke depannya nanti ada juga Post Mojok atau Mojok Perjuangan), serta bikin kelas menulis dengan pemandu selebtwit sekelas Armand Dhani.

Kerelaan berikutnya mungkin bisa dengan meminta Bang Eddward S. Kennedy gantian mengajar dedek-dedek gemes baca tulis di Pasar Santa. Jangan salah, lho, berkat twit-twit bang Edo-lah ada perspektif baru dalam melihat eksistensi Pasar Santa. Bagaimana, Bang Edo, bersedia?

Curhatan ketiga, ya itu, semoga tim Mojok bersedia memuat tulisan saya ini. Katakanlah semacam kado Natal untuk kami para penulis gagal ini. Seperti seorang Santa yang memberi bingkisan kepada buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota bersatu padu rebut demokrasi! Lho, lho, kok jadi orasi?

Menjelang penutupan tahun 2015 dan sekaligus tulisan ini, harapan kami semoga nanti di tahun 2016 perekonomian Indonesia bakal lebih baik, Pak Jokowi juga tak menemui hambatan menjalankan program “Nawacita”, aksi “Kamisan” tetap dapat digelar tanpa diganggu aparat, rakyat Papua bisa hidup sejahtera, dan Padi rilis album terbaru.

Dan satu hal yang terpenting: penulis-penulis yang gagal itu segera dibikinkan Panti Mojok, semacam wadah untuk mengasah kemampuan menulis plus menembak gebetan. Ya, katakanlah hal itu merupakan Corporate Social Responsibility Mojok kepada para pembaca (yang juga berusaha menjadi penulis) karena erosi emosi dan air mata yang berkepanjangan akibat tulisan-tulisan di Mojok. Ada yang mau ikut gabung?

Tapi, ya, kalau memang tulisan ini kembali gagal tayang, apa boleh bikin, mungkin Krisdayanti harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dan Pasha Ungu harus diberi gelar pahlawan bangsa.





Penulis
Ade Saktiawan

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/12/betapa-susahnya-menjadi-pembaca-sekaligus-penulis-di-mojok/’][/link]

Tinggalkan Balasan