Uncategorized

Bersedekah untuk Nyamuk |

Sejak keriuhan di kandang kambing milik Pak Lurah, orang-orang semakin percaya bahwa Cak Dlahom bukan orang gila biasa. Sebagian mulai mencapnya sebagai orang gila yang sesat. Sebagian yang lain kasak-kusuk mau mengusir Cak Dlahom dari kampung. Di mana-mana, mereka memperbincangkan tingkah Cak Dlahom. Kadang usai salat di masjid, kadang di warung kopi, kadang di rapat RT. Cak Dlahom telah menjadi isu di kampung.

Tapi itu semua belum seberapa sampai pada suatu malam, usai maghrib, orang-orang diributkan kembali oleh tingkah Cak Dlahom. Kali ini kejadiannya bukan di kandang kambing, melainkan persis di depan masjid, di balik tembok tempat imam salat.

Entah siapa yang kali pertama kali menemukannya, usai salat maghrib orang-orang mengerubungi Cak Dlahom telentang di antara dua makam tua. Sumpah-serapah dan caci-maki terdengar. Mereka lupa baru saja beribadah. Kaum perempuan menjerit.

Mat Piti yang sedang berzikir terganggu, dan terpaksa juga menengok ke belakang pengimaman. Dan benar, di sana ada Cak Dlahom telentang memandangi langit.

Masalahnya, Cak Dlahom bukan hanya telentang, tapi juga telanjang. Telanjang bulat, dan itulah yang memantik kemarahan jamaah. Cak Dlahom dianggap menodai kesucian masjid. Beruntung mereka tidak berbuat kekerasan terhadap Cak Dlahom.

Melihat Cak Dlahom yang seperti itu, Mat Piti segera mengambil sarung yang disediakan di masjid. Dia lalu melemparkannya dan meminta Cak Dlahom agar segera mengenakannya. Cak Dlahom sempat kaget dan mulanya tidak bersedia, tapi Mat Piti terus merayunya hingga Cak Dlahom mengenakan sarung itu. Dia menutup bagian perut ke bawah.

Mat Piti lalu segera merangkulnya. Cak Dlahom diajak pulang ke rumahnya. Di teras masjid, satu-dua orang memukul kepala Cak Dlahom, tapi Cak Dlahom hanya cekikikan. Dan di rumah Mat Piti, usai Cak Dlahom diberi minum oleh Romlah, mulailah Mat Piti bertanya maksud Cak Dlahom telanjang bulat di belakang pengimaman masjid.

“Maksud sampeyan apa sih, Cak?”

“Yang mana, Mat?”

“Ya yang tadi, Cak, sampeyan kok telanjang di belakang pengimaman?”

“Oh tak kira apa. Aku mau sedekah, Mat.”

“Sedekah apa?”

“Ya sedekah, Mat.”

“Masak sedekah dengan telanjang bulat gitu, Cak?”

“Masak ndak boleh?”

“Maksud saya, sampeyan telanjang itu mau sedekah untuk siapa?”

“Aku mau bersedekah buat nyamuk, Mat.”

“Hah? Nyamuk? Yang bener saja, Cak…”

“Loh kenapa ndak bener?”

“Di mana-mana, bersedekah itu ke manusia. Pakai barang atau ilmu. Ini masak sedekah telanjang ke nyamuk.”

“Lah terus yang mau bersedekah ke nyamuk siapa, Mat?”

“Ya nyamuk memang sudah diciptakan untuk begitu, Cak. Tak perlu disedekahi.”

“Itu kan katamu. Setiap hari, setiap malam, berapa banyak nyamuk yang kamu bunuh hanya karena mereka dianggap binatang tak tahu diri yang mengisap sedikit darahmu dan mengganggu kenyamanan telingamu?”

“Setahu saya, Cak, Allah menciptakan nyamuk hanya berusia dua hari. Kita bunuh atau tidak, nyamuk akan segera mati dalam dua hari.”

“Kamu dan manusia lain juga akan segera mati, Mat.”

“Betul, Cak, tapi dia merugikan kita. Mengisap darah kita.”

“Sudah tidak bisa menciptakan, suka membunuhnya, menganggapnya pengganggu, dan kamu masih merasa paling mulia, Mat? Baru digigit nyamuk saja sudah merasa terganggu.”

“Ya kita kan diwajibkan juga menjaga kesehatan dan kebersihan, Cak? Kalau digigit nyamuk, kulit kita bisa bentol-bentol.”

“Allah menciptakan nyamuk, antara lain untuk mengisap darah manusia. Agar manusia tahu, ada hak makhluk lain pada dirinya. Dan mengisap darah adalah ibadahnya nyamuk kepada Allah.”

“Ya tapi tetap saja mengganggu, Cak.”

“Oh iya, karena kamu merasa tidak pernah menggangu makhluk lain. Lagi pula kalau setiap nyamuk kamu bunuh, lalu dengan cara apa mereka akan berbakti kepada Allah? Tidakkah mereka mengisap darah itu, karena diperintah oleh Allah?”

“Sampeyan tahu dari mana Cak?”

“Ada tah, Mat, Allah menciptakan sesuatu itu sia-sia dan tidak untuk beribadah kepadaNya?”

“Ndak ada, Cak…”

“Karena itu aku telanjang bulat. Aku ingin membantu nyamuk-nyamuk memenuhi pengabdiannya kepada Allah. Aku menyedekahkan darahku, agar dengan begitu mereka bisa berbakti kepada Allah.”

“Ya tapi lain kali tak usah telanjang di halaman masjid, Cak, apalagi saat-saat orang berjamaah. Jadi ribut.”

“Itu soal teknis, Mat. Perkara gampang.”

“Gampang gimana?”

“Aku bisa telanjang di mana saja termasuk di sini.”

Belum sempat Mat Piti menjawab, Cak Dlahom sudah memelorotkan sarungnya. Telanjang bulat lagi. Mat Piti berseru kaget.

Romlah yang sedang mengaji di ruang tamu, buru-buru ke luar ke teras. Dia segera menjerit melihat Cak Dlahom tanpa selembar kain, berdiri persis di depan bapaknya yang duduk di lincak, dan segera kembali masuk rumah.

Cak Dlahom cekikikan. Mat Piti geleng-geleng kepala. Nyamuk-nyamuk beterbangan.

 

(diinspirasi dari kisah yang diceritakan Syeikh Maulana Hizboel Wathany)





Penulis
Rusdi Mathari

Sumber: [link url=’http://www.mojok.co/2015/07/bersedekah-untuk-nyamuk/’][/link]

Terimakasih telah membaca Bersedekah untuk Nyamuk |. Mungkin kamu juga tertarik membaca Cara Membuat Wallet Bitcoin atau Cara Mining Bitcoin Menggunakan Laptop.


Tahukah Anda Apa Itu Kanker Mesothelioma?

Informasi Seputar Kanker Mesothelioma

Mesothelioma merupakan salah satu kanker paru-paru yang cukup jarang terjadi, namun yang paling berbahaya dan mematikan yang biasanya terjadi pada membran di sekitar paru-paru, yang disebut dengan pleura. Penyebab utama dari kanker yang menyerang sel paru-paru bernama mesothelium ini adalah paparan debu asbes.

Asbes bisa berbentuk papan atap, mineral, serat dan berbagai macam olahan produk asbes bisa menimbulkan debu dan dihirup bersama dengan udara. Biasanya ini terjadi di lingkungan industri, lokasi konstruksi, pertukangan dan toko material bangunan. Ketika serat dan debu asbes dihirup ke dalam paru-paru, maka debu tersebut akan berhenti di dalam paru-paru.

Tags

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: nusagates@gmail.com. Hubungi via Whatsapp.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker