Nusagatech

Bergesernya Target Audien Mojok Dalam Tanda Kutip

Beberapa hari ini, di sela-sela kesibukan mengeja kode yang memenatkan karena dikejar deadline (Tanggal 27 diminta ke Jakarta), aku menyempatkan membuka timeline Facebook. Seperti biasanya, aku mencari status hiburan yang berseliweran di timeline. Artikel dari Mojok yang dibagikan melalui Fanspagenya berjejer-jejer di timeline seakan melambai-lambai meminta dibaca.

“Ada yang baru, nih”, pikirku ketika melihat barisan link dari Mojok.co yang tetap mbejudul ketika discroll sampai beberapa kali. Kulihat link-link tersebut sudah ditandai dengan icon flash yang artinya Instant Article sudah diaktifkan kembali. Aku mbatin, “kok tumben link yang dibagikan begitu banyak. Apa gara-gara Instant Artikelnya aktif membuat admin FP kaul?”.  Whatever lah! Apapun motifnya yang penting aku dapat hiburan.

Aku melewatkan beberapa link artikel begitu saja karena sudah pernah membacanya beberapa kali. Artikel-artikel yang pernah diterbitkan sebelum Mojok hibernasi beberapa saat memang banyak yang memukau. Membacanya berkali-kali belum juga membuatku bosan terlebih artikel yang berjudul Membela Kak Jonru. Sedep bener penyajiannya. Hanya saja, kemarin itu pengen hiburan yang fresh. Jadi ya skip saja yang sudah pernah dibaca.

Sekitar 60% deep scroll pada page ke 3, ada sebuah iklan yang dibuat oleh FP Mojok. Kulihat judulnya sangat menarik. Di bawah iklan itu, seingatku, Kepala Suku Mojok tampak membagikan link yang diiklankan itu. Setelah link itu kubuka, ternyata isinya adalah tulisannya kepala suku yang pernah kubaca di status Facebooknya beberapa waktu yang lalu. Di Mojok, tulisan itu diberi judul “Jahatkah Kaum Berjenggot, Bercelana Cingkrang, dan Berjidat Hitam?“. Meskipun aku pernah membacanya, aku tetap membacanya lagi dengan seksama. Rasanya ada yang baru. Maksudku ada penambahan segmen di dalamnya (tulisan itu). Tapi entahlah. Aku tidak mencari tahu lebih lanjut tentang kebenaran prasangkaku.

Hari ini, lagi-lagi iklan dari FP Mojok nongol. Artikel yang diiklankan berjudul “Nggak Cuma NU, Wahabi Juga Punya Garis Lucu“. Artikel itu kubaca juga dengan seksama. Di artikel itu, aku bisa menangkap beberapa kelucuan salah satunya ketika Syaikh Utsaimin menyuruh sujud ketika penanya melihat radionya sujud.

Setelah membaca artikel itu, aku balik lagi ke timeline. Kulihat ada beberapa komentar pada artikel yang diiklankan itu. Mayoritas komentator menyatakan bahwa mereka gagal menangkap kelucuan yang dimuat pada artikel yang diiklankan. “Mojok sukses menarget audien baru, nih”, batinku. Dari dulu memang ada saja komentator yang menganggap artikel Mojok itu wagu apalagi yang genre satire,  banyak yang menganggapnya sebagai  bentuk dukungan nyata bagi lakon yang dibahas dalam artikel. Mojok berhasil membuatku senyum-senyum sendiri bahkan saat dini hari ketika insomnia kembali menyapa seperti ini.

Tinggalkan Balasan