NusagatizenNusagatrip

Berburu Siluet Candi Borobudur di Punthuk Setumbu

Catatan Ngebolang Bareng si K di Magelang

Kabut melayang-layang indah di sela siluet rimbun pepohonan. Matahari terbit dengan malu-malu. Hujan deras yang mengguyur Magelang semalam masih menyisakan mendung pagi ini. Semburat orange memenuhi langit. Kusapu pandangan ke segala arah. Menelusuri siluet demi siluet, tidak boleh seinci pun yang terlewat.

Tampak orang-orang sibuk berfoto ria. Beberapa diantaranya mengantri foto di spot-spot selfie yang tersedia. Demi siluet yang kuimpikan lama, siluet yang kulihat pertama kali di rubrik photographer Suara Merdeka, aku rela bertahan di pagar pembatas sembari menggendong si K.

“Hei, Abah, itu dia. Persis di tengah-tengah!” Aku menjawil abah K yang tengah asik membaca prasasti peresmian.

Mataku kabur. Dadaku membuncah haru. Mimpi yang kuukir bertahun lalu, kini ada di depan mataku; siluet Borobudur di tengah-tengah kabut tipis, laksana dongeng-dongeng tentang nirwana, Borobudur seolah melayang-layang di tengah kabut. Negeri kaki langit.

Berburu Siluet Candi Borobudur di Punthuk Setumbu 1

Aku bersegera merekam dengan satu tangan. Si K enggak mau digendong abahnya, sementara abah K sibuk meresapi pemandangan nan magis. Seiapa yang tidak tersihir dengan indahnya pemandangan ini? Aku sampai kehilangan kata-kata yang pantas menggambarkan betapa Agung-Nya Robbuna yang telah Menciptakan Alam secantik ini.

Perjalanan Menuju Punthuk Setumbu

Jam 5 pagi, selepas shubuh kami keluar dari Hotel Graharu. Langit masih gelap, tetapi jalanan Magelang sudah mulai ramai dengan aktivitas warga. Ibu-ibu terlihat sibuk memilah-milah sayur di warung, Bapak-bapak sudah sliwar-sliwer dengan sepeda onthel dan caping bamboo di kepalanya, mungkin bersiap ke sawah.

“Ibuk, kemana?” tanya si K sembari mendongak ke atas, memandang mukaku.

“Kita lihat matahari terbit, nanti.” Aku menjawab singkat, mataku focus ke Google Maps.

Abah K gesit mengendarai motor. Jalanan masih sepi, sesekali kami berpapasan dengan mobil dan motor. Hari mulai terang. Di kanan kiri sawah terhampar dengan padi yang mulai menguning. Kabut melayang-layang di sela-sela bukit.

Wah, belum sampai lokasi saja kami sudah disuguhi pemandanganan secantik ini. Sayang, aku enggak bias mengambil gambar sawah dengan background siluet bukit dan kabut yang melayang-layang karena kami merasa sayang untuk berhenti sejenak, khawatir ketinggalan sunrise.

Saat Google Maps menunjukkan belokan terakhir sebelum ke Punthuk Setumbu, ada parkiran dengan bis-bis yang berjajar. Wah, banyak orang nih, batinku. Di gang menuju pos Punthuk Setumbu, kami berpapasan dengan rombongan berseragam merah dan orange yang berjalan beriringan di gang yang menanjak.

Tanjakan dari parkiran bis ke pos Punthuk Setumbu lumayan, 400 meteran. Kami memarkir sepeda di belakang mushola dan membeli karcis di loket. 2k untuk parkir dan 15k/orang untuk karcis masuk, total kami harus membayar 32k untuk masuk ke Punthuk Setumbu.

Loket di Punthuk Setumbu, sudah buka dari jam 04.00 WIB
Loket di Punthuk Setumbu, sudah buka dari jam 04.00 WIB

Jalan setapak mulai menanjak. Aku ngos-ngosan menggendong si K. Kuangsurkan si K ke abah K. Nafasku sudah ngos-ngosan. Di depan sana, terlihat tangga berkelok-kelok, “Masih ada tangga lagi ternyata, Bah.”

Meskipun si K sudah digendong Abah K, aku masih kepayahan. Sudah lama enggak olahraga, otot sangat kaku diajak menapaki tangga demi tangga. Ayo, naik, di atas sana ada mimpi yang sudah kamu tanam bertahun-tahun. Kuhalau rasa payah dengan memandangi sekitar, menyelami keheningan dan menghirup udara yang sangat segar. Kabut tampak melayang-layang di kanan kiri. Ehm, awan tipis serupa cirrus itu, lebih tepat disebut kabut atau awan?

Tangga menuju Punthuk Setumbu
Tangga menuju Punthuk Setumbu

05.45, kami akhirnya sampai ke puncak bukit. Aku lupa dengan otot tendon kaki yang menunjukkan tanda-tanda kram, terpesona dengan pemandangan nan agung. O, Negeri di atas awan! Negeri kaki langit dengan awan yang melayang-layang. Di sanakah dahulu kala Ratu Balqis berada? Hahaha, emak K mulai ngelantur.

30 menit kami menikmati pemandangan yang magis. Matahari tertutup awan mendung, tetapi itu tidak mengurangi ketakjubanku akan keindahan laksana nirwana. Imajinasiku saat membaca dongeng Yunani terpampang di depan mata. Borobudur laksana istana di atas awan.

Menikmati Sunrise di Punthuk Setumbu
Menikmati Sunrise di Punthuk Setumbu

Fasilitas di Puncak Punthuk Setumbu

Punthuk Setumbu melampaui ekspektasiku. Kukira ia hanya sepetak puncak bukit yang masih berupa tanah dan pagar bamboo. Ternyata fasilitas yang ditawarkan sudah sangat jempolan. Pagar yang mengelilingi berupa pagar besi yang kokoh. Tanahnya pun sudah diplester batu alam dengan rapi. Kami tetap aman menjejak meskipun hujan deras mengguyur semalaman.

Di area pandang Sunrise tersedia toilet yang bersih dan terawat. Kita tidak perlu khawatir jika kebelet saat berada di Punthuk Setumbu. Lapar? Jangan khawatir, di sepanjang jalan ada warung dengan berbagai menu.

Saat merasa cukup melihat pemandangan nan magis itu, kami langsung turun ke bawah. Melupakan keinginan untuk foto di spot-spot selfi. Si K sudah merengek meminta mie, pengen pak-Bapak yang enak-enaknya menikmati mie di samping kami. Perutku saja sudah meraung-raung gara-gara menghirup aroma bumbu mie dari pak-bapak ini.

Di tikungan tangga pertama, kami berhenti sejenak. Melepas lelah di warung yang menyediakan aneka gorengan. Ibu pemilik warung sepertinya sengaja menggoreng di luar, memamerkan gorengan dengan uap hangat yang masih mengepul. Juga… sambal mentah uleg yang tersaji di atas layah.

Gorengan di Punthuk Setumbu nan Menggoda
Gorengan di Punthuk Setumbu nan Menggoda

Godaan di pagi hari yang sangat sayang untuk dilewatkan. “Bah, keluar dari juklak FC nih?” bisikku, hati-hati.

Rapapa, ketoke wis aman.” Jawab abah K. Aku tertawa sekaligus khawatir. Khawatir jika perut abah K berontak lagi.

Aku memesan Pop Mie untuk si K, 2 buah arem-arem, 3 buah tahu goreng dan 1 buah bakwan. Saat pulang, si K meminta roti coklat dan 2 permen. Total yang harus kami bayar sat itu adalah 22k. Aku sempat memperhatikan, gorengan dihargai 1k/biji, arem-arem 4k/biji dan Pop Mie 6k. Harga yang standar, sangat murah untuk kawasan wisata.

Tips Menikmati Sunrise di Punthuk Setumbu

  1. Cari hotel di sekitar Punthuk Setumbu. Di dekat Punthuk Setumbu banyak bertebaran homestay dengan berbagai range harga. Kalau kami menginap di Graharu Hotel dekat candi Pawon. Kami berangkat pukul 05.00 dari hotel.
  2. Rekomendasi kunjungan adalah pagi hari di bulan kemarau, sekitar April-Oktober, Kami kemarin tidak menikmati sunrise secara penuh karena matahari terhalang awan mendung.
  3. Punthuk Setumbu terdapat spot-spot selfie. Bisa sih berkunjung selain pagi hari, tetapi kita tidak bisa menikmati awan dan kabut yang melayang-layang jika hari sudah menginjak siang.
  4. Sebaiknya menggunakan moda transportasi mobil atau sepeda motor karena bis tidak bisa masuk sampai ke loket. Tempat parkir bis  sampai ke loket lumayan jauh, sekitar 400 meter.
  5. Tanjakan menuju Punthuk Setumbu tidak stroller friendly, bagi yang membawa anak better memakai gendongan SSC.

Yuk, siap menikmati magisnya Borobudur yang berselimut awan?

Tahukah Kamu Arti alpaka-2?

al·pa·ka 2 n jenis hewan menyusui spt domba berleher panjang yg diternakkan di Peru dan menghasilkan wol
Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Komentar

  1. Wah, ini salah satu yang ingin kukunjungj. Oh, ralat, semua tempat wisata ingin kukunjungj. Hihihi.

    Dari tadi aku ngarep banget ada kata “bayar hotel G sekian” lho. Jadi lengkap semua anggarannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close