Nusagatizen

Anak Tak Perlu Ikut Les, Mengapa?

Les secara umum dapat diartikan sebagai pelajaran tambahan yang diberikan pada anak di luar jam belajar sekolah. Proses pembelajaran pada les biasanya dilakukan secara komunal atau berkelompok. Seorang tutor bisa mengajar les pada 5 sampai 10 siswa atau lebih dalam waktu bersamaan. Tergantung situasi dan konsisi. Berbeda dengan istilah private yang cenderung dimaknai dengan pemberian pelajaran tambahan di luar jam sekolah secara personal. Umumnya dilakukan oleh satu tutor dan satu siswa.

Penyelenggara les semakin banyak seiring bertambahnya minat orang tua dan siswa untuk mengikuti les. Penyelenggara les ini bisa berupa perseorangan (individu) yang memiliki kecakapan (skill) pada matapelajaran tertentu, bisa seorang guru di sebuah sekolah formal dan membuka kelas tambahan di rumah melalui program les, ataupun lembaga bimbingan belajar (bimbel) atau dikenal juga dengan istilah LBB. Entah LBB tersebut benar-benar lembaga resmi yang telah disahkan oleh pemerintah ataupun sebuah lembaga yang hanya modal pengakuan sendiri saja (self-proclaimed).

Dulu, duluu sekali, di daerah tempatku tinggal tidak ada yang namanya orang tua menyuruh anaknya untuk ikut les. Sepulang sekolah biasanya waktu digunakan oleh anak untuk bermain dan ketika menjelang sore biasanya digunakan untuk mengaji. Sepulang mengaji biasanya adalah waktu untuk bermain layang-layang. Namun, setelah budaya les masuk desa, waktu bermain anak menjadi sangat berkurang. Jam belajar mengaji pun sering dipangkas. Terlebih ketika mendekati ujian.

Alasan mengenai tak perlunya memberikan les pada anak yang akan disampaikan ini bukanlah sebuah ajakan persuatif ataupun hasil sebuah kajian ilmiah yang telah diuji melalui beberapa eksperimen. Alasan yang diungkap di sini lebih bersifat opini personal dan kesimpulan dari hasil diskusi yang dilakukan dengan beberapa teman yang peduli terhadap pendidikan. Jika ada pihak yang kontra silahkan ditanggapi melalui komentar di bawah atau dibalas dengan kritikan dalam bentuk tulisan yang diterbitkan di blog lain.

Beberapa alasan mengapa anak tak perlu ikut les antara lain:

Tanggung Jawab Guru Berkurang

Ketika orang tua sudah memutuskan untuk menyekolahkan anak di sebuah satuan pendidikan (sekolah) formal maka seyogyanya ia menyerahkan sepenuhnya mengenai masalah pendidikan anaknya pada guru dan semua jajaran yang mengelola satuan pendidikan terkait. Alangkah baiknya menjalin komunikasi yang intens dengan guru ketika mendapati anaknya belum bisa memahami suatu materi pelajaran.

Katakanlah orang tua mendapati anaknya kesulitan dalam belajar matematika. Hasil ujian yang dilakukan pada mata pelajaran matematika selalu mendapat merah. Alangkah baiknya ia kemudian berkonsultasi dengan guru yang mengajar matematika secara langsung. Menanyakan apa penyebabnya dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu menunjang belajar anaknya pada pelajaran matematika. Sinergi antara guru dan orang tua sangat penting bukan malah melimpahkan tugas guru matematika kepada guru les.

Budaya les yang semakin membudaya akan berpotensi membuat guru bisa dengan santai meninggalkan tanggung jawabnya. Misalnya, “untuk apa ngajar serius? Wong nanti juga mereka diajar guru les.”. Jika hal ini sudah menjangkit seorang guru, bisa saja ia memberikan materi pelajaran hanya sekedarnya saja kemudian memberikan PR sebanyak-banyaknya untuk dikerjakan bersama guru les.

Jam Belajar yang Pendek

Durasi atau waktu belajar pada les umumnya dilakukan antara 1 sampai 2 jam dalam sekali pertemuan. Jika pada satu pertemuan siwa yang ikut les berjumlah 10 anak maka rata-rata jam belajar tambahan anak yang bisa didapat anak kurang lebih adalah sekitar 12 menit untuk durasi les selama 2 jam. Dari mana angka 12 menit ini? Angka ini didapat dari 120 menit dibagi 10 yaitu 12 ( $latex\frac{120}{10}=12 $ ) .

Seorang guru les seringkali dihadapkan dengan beragam karakter siswa serta jenjang kelas yang berbeda. Materi yang telah diterima dan dipahami siswa umumnya beragam segingga guru les tidak bisa menyamaratakan metode belajar yang digunakan seperti ketika mengajar di kelas formal misalnya. Untuk itu pembagian waktu belajar perlu dilakukan untuk memberikan fokus ke masing-masing peserta les.

Lalu, aku menihilkan waktu 108 menit yang dihabiskan pada waktu les tersebut? Bukan! Waktu itu tetap diperhitungkan tetapi umumnya waktu itu sangat minim digunakan untuk benar-benar belajar. Umumnya, ketika mereka disuruh belajar mandiri ketika tutor sedang fokus pda siswa lain, mereka hanya menggunakan waktu untuk belajar sedikit saja. Sisanya digunakan untuk bermain.

 Bersambung…

Tahukah Kamu Arti riadat?

ri·a·dat Ar n 1 perihal bertapa dengan mengekang hawa nafsu (memantang berbagai makanan dan sebagainya); 2 latihan
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close