Nusagatizen

Alasan Mengapa Perlu Imunisasi Pada Anak

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwasannya ada beberapa kelompok orang yang menentang [kamus kata=”imunisasi”] dengan cara memberikan [kamus kata=”vaksin”] pada anak. Alasan mereka tidak mau memberi vaksin pada anak beragam. Kelompok ekstrem kanan beralasan karena vaksin tidak ada pada zaman nabi, kelompok [kamus kata=”ekstrem”] kiri beralasan bahwasannya program vaksinasi yang dilakukan itu adalah merupakan [kamus kata=”konspirasi”] para [kamus kata=”kapitalis”] untuk mendapat keuntungan belaka, dan kelompok ekstrem murokkab alasannya lebih beragam. Ada juga yang menentang vaksin karena ketakutan akan adanya [kamus kata=”efek”] samping negatif pasca pemberian vaksin pada anak.

Secara umum, tujuan pemberian vaksin pada program imunisasi yang dicanangkan oleh pemerintah adalah untuk mengurangi [kamus kata=”potensi”] anak terkena penyakit mematikan dan mudah menular. Jika ada orang berkata, “anakku tidak divaksin nyatanya juga sehat-sehat saja” atau “si b divaksin nyatanya kena [kamus kata=”campak”] juga” sebetulnya kata-kata itu mirip perokok yang ngeyel dengan bilang, “aku merokok nyatanya juga tidak terkena serangan jantung” atau bilang “si a tidak merokok nyatanya juga terkena serangan jantung”. Atau lebih ekstrem lagi kicauan orang yang suka jajan, “aku suka pesta seks nyatanya tidak kena HIV/AIDS” atau “si c tidak suka jajan nayatanya kena HIV/AIDS”. Komparasi seperti itu sebetulnya tidaklah tepat karena potensi bukanlah sebab yang mutlak atau pasti terjadi.

Perubahan dan perkembangan teknologi yang digunakan manusia terus berjalan. Dahulu, nabi dan para sahabat berperang menggunakan pedang, panah, atau alat tradisional lainnya. Sekarang, para jihadis bisa berperang menggunakan senjata api, bom, rudal, maupun pesawat-pesawat tempur. Demikian pula dalam hal kesehatan. Dahulu, pengobatan tradisional cukup untuk menangani penyakit yang berlaku pada masa itu. Namun dewasa ini, tidak semua penyakit bisa diobati dengan cara tradisional karena ragam penyakit yang semakin banyak dan sebagiannya disebabkan oleh oknum manusia yang sengaja melakukan [kamus kata=”rekayasa”] [kamus kata=”genetika”] pada suatu virus maupun bakteri untuk menciptakan senjata biologis.

Pencegahan atau pengobatan suatu penyakit tidaklah bisa disamakan antara satu daerah dengan daerah yang lain. Aku masih ingat ketika mengikuti kuliah Geografi Kesehatan waktu itu, dosen menuturkan bahwasannya banyak para dokter tersohor dari barat yang mati kutu melawan penyakit-penyakit [kamus kata=”endemis”] di daerah tropis. Ilmu kedokteran yang mereka pelajari di daerah asalnya sebagian besar tidak berlaku untuk diterapkan di Indonesia yang termasuk negara beriklim tropis. Walhasil banyak dokter terpaksa harus mengikuti kuliah lagi demi melanjutkan karirnya di Indonesia gara-gara hal ini. Jadi, jika misalnya bekam dengan cara, alat, atau media tertentu efektif dilakukan pada suatu daerah belum tentu efektif dilakukan di daerah lain.

Sebagaimana [kamus kata=”makanan”] pokok yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, penyakit yang menjangkit daerah-daerah tersebut pun umumnya berbeda. Aku tidak ingin mengatakan bahwasannya makanan pokok yang beragam menyebabkan munculnya penyakit yang beragam. Namun, secara umum perilaku atau usaha untuk mendapatkan bahan pokok itu yang berpotensi menimbulkan penyakit yang beragam. Misalnya petani padi, petani gandum, pengelola kebun kurma, ataupun pengolah sagu akan berpotensi terkena penyakit [kamus kata=”endemis”] yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya [kamus kata=”organisme”] yang berbeda di daerah tempat mereka beraktivitas.

Kemarin, istriku tercinta, Widut (bukan berarti kalau aku menggunakan kata tercinta terus berarti ada istri yang agak dicinta, kurang dicinta, dan tidak dicinta. ?) mengatakan bahwa bulan september adalah jadwalnya si K untuk imunisasi. Ia menceritakan bahwasannya ada seorang guru yang tertular penyakit rubella oleh anak didiknya kemudian menyebabkan anak yang dikandungnya tertular penyakit itu dan menyebabkan anaknya itu tuli total. Widut mengatakan kalau penyakit ini tidak begitu bahaya apabila menjangkit anak atau orang dewasa namun berbahaya bagi anak yang masih dalam kandungan. Ketika ibu yang mengandung terkena penyakit ini, potensi anak dalam kandungan tertular semakin tinggi dan potensi lahir dengan cacat fisik pun semakin tinggi. Aku pun percaya pada Widut daripada pusing disuruh baca jurnal sendiri.

Walhasil aku semakin yakin untuk memberikan vaksin pada anak. Hal ini kulakukan karena kesadaranku akan bodohnya diriku dalam hal kesehatan. Jika aku mampu membuat benteng pertahanan sendiri untuk membentengi anak dan keluarga dari serangan virus ataupun bakteri jahat yang dihasilkan oleh rekayasa genetika maupun [kamus kata=”evolusi”] alami yang baru ditemukan sekian ratus tahun setelah nabi Muhammad wafat maka aku akan anti vaksin yang digalakkan lewat program imunisasi ini. Aku tidak mau anakku atau keluarga menjadi sasaran empuk para penyebar virus atau bakteri apalagi jika sampai anti vaksin itu malah akan membuatku mendapat dosa [kamus kata=”jariah”] karena menyebabkan orang lain yang seharusnya sehat tapi terkena penyakit yang sebetulnya bisa dihindari atau dicegah dengan vaksin.

Kenyataannya aku tidak bisa menguasai semua bidang ilmu yang ada di dunia ini. Untuk itu, aku menyerahkan dan memilih ikut saja pada orang-orang yang memiliki [kamus kata=”kompetensi”] dibidangnya. Dalam hak ini, aku mengikuti pemerintah dan ahli medis untuk mengikuti program imunisasi. Lagi pula MUI tidak mengeluarkan [kamus kata=”fatwa”] haram pada imunisasi atau vaksinasi. Masak iya aku mau mengharamkannya melalui fatwaku sendiri?! Amd

[tahukah kata=”wabah”]

Tinggalkan Balasan