Nusagahealth

Aku ODG Yang Sedang Mendampingi ODG

Sebelum aku bercerita, aku akan sedikit menjelaskan apa itu ODG. ODG adalah singkatan dari Orang Dengan GERD. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang sakit akibat naiknya asam lambung (dan atau makanan) dari lambung ke esofagus. Masyarakat umum seringkali menamai penyakit seperti ini apa pun bentuknya dan seberapa pun parahnya dengan istilah maag, penyakit asam lambung, atau grastitis. Paling tidak itu yang sering kudengar dari masyarakat (dan juga petugas medis yang menanganiku) sebelum mengenal GERD.

Penyebab naiknya asam lambung (refluks) bisa bermacam-macam. Bisa karena stres, infeksi bakteri, pola makan yang buruk, dan lain sebagainya. Tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut mengenai hal itu melainkan akan bercerita tentang pengalamanku mengobati GERD sekaligus mendampingi penderita GERD secara bersamaan.

Perjalananku Dengan Penyakit Asam Lambung

Aku merasakan gejala penyakit asam lambung sudah sejak lama. Kira-kira sudah sekitar 10 tahun-an yang lalu. Hanya saja aku tak pernah mempermasalahkannya. Aku selalu melakukan denial pada diri sendiri dengan meyakinkan pada diri bahwa aku sehat-sehat saja.

Petaka itu datang saat pekerjaan menumpuk sekitar 5 bulan yang lalu. Pagi hari, usai sholat subuh, tiba-tiba jantungku berdegup sangat keras dan cepat (selanjutnya disebut dengan arimia). Irama jantung itu semakin lama semakin keras dan cepat sehingga membuatku merasa cemas dan takut kalau itu merupakan pertanda penyakit jantung.

Aku pun segera mencari istriku. Dengan nafas yang sudah mulai sulit dikendalikan, aku berusaha memberitahunya apa yang sedang terjadi padaku. Singkat cerita, aku langsung dibawa ke petugas medis. Di sana, setelah diperiksa, apa yang aku alami itu hanya gejala penyakit asam lambung dan bukan merupakan pertanda penyakit jantung. “Gejalanya (penyakit jantung) beda”, katanya. Aku merasa lega meskipun masih menyisakan sedikit was-was.

Setelah kejadian itu, aku merasakan penyakit asam lambung yang kuderita semakin parah. Setiap hari selalu mengalami refluks dan seringkali juga muncul aritmia. Meskipun oleh petugas medis dinyatakan bukan penyakit jantung, aritmia yang kualami itu berhasil membuatku terbayang-bayangi oleh kematian yang begitu dekat. Aku menjadi takut sendirian. Sholat pun harus ada yang mengawasi. Bahkan aku sampai tidak berani mengunci pintu kamar mandi saat sedang mandi atau buang hajat. Aku takut kalau ada apa-apa tidak ada orang yang bisa membantuku karena pintunya kututup dari dalam.

Usaha-Usaha Mengobati Penyakit Asam Lambung

Aku, istri, ibu mertua, dan orang-orang terdekat lainnya seakan-akan saling berlomba mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait bagaimana menyembuhkan penyakit asam lambung yang kuderita itu.

Ada yang menyuruh makan nasi beras Rojo Lele dengan lauk ayam kampung yang masih muda dan harus habis dimakan sendiri selama beberapa hari. Ada yang menyarankan untuk makan bubur tepung kanji tiap pagi dan sore. Ada yang menyarankan untuk minum air alkali produk MLM itu. Ada yang menyarankan minum parutan kencur. Dan masih banyak saran-saran lainnya.

Beberapa saran dan informasi yang kudapat melalui browsing atau diberitahu teman kujalani. Beberapa diantaranya hanya manjur di awal tapi setelah beberapa kali kujalani seperti tidak berpengaruh apa-apa.

Mengenal Pola Makan Food Combining

Setelah menjalani berbagai upaya medis dan non medis tak memberi hasil yang sesuai harapan, aku merasa putus asa. Di sisi yang lain aku merasa sangat berat jika membayangkan kematian meninggalkan istri dengan seorang anak yang masih belia.

Aku teringat dengan salah seorang teman yang berhasil sembuh dari penyakit asam lambung yang dideritanya. Zia namanya. Dari dialah, aku mengenal istilah GERD, Anxiety, dan Food Combining (selanjutnya disebut FC). Ketiganya sangat familiar bagi penderita GERD yang sudah senior.

Singkat cerita, Zia memberiku selembar kertas yang ditulisi jadwal makan sesuai juklak (petunjuk dan pelaksanaan) FC khusus GERD sebagaimana yang dilakukannya dulu sehingga bisa sembuh dari GERD.

Aku pun kemudian menjalani pola makan FC percobaan selama seminggu dan memberikan hasil yang sangat signifikan. Melihat hal itu, pada minggu kedua, aku melanjutkan FC dengan berpuasa. Berpuasa ala FC diharuskan sahur hanya dengan makan buah saja. Setelah menjalani FC selama 2 minggu itu, aku semakin yakin kalau pola makan FC sangat cocok untuk menyembuhkanku dari GERD. Hal itu dibuktikan dari skala 10 frekuensi refluks yang kualami sebelum menjalani FC menjadi 3 saja setelah menjalani FC. Sederhananya begini: sebelum FC, aku setiap hari refluks sampai aritmia dan anxiety. Setelah FC refluks itu berkurang menjadi 2 kali dalam seminggu. Bahkan! Saat berpuasa di minggu ke dua, aku hampir tidak merasakan refluks sama sekali. Hanya ada sedikit kurang nyaman di perut saja pada saat tertentu.

Mengajak Bapak Untuk FC

Desember lalu, menjelang liburan panjang, aku pulang kampung bersama anak dan istri. Liburan ini aku niatkan sekaligus mengajari bapak untuk ikut FC.

Bapak juga menderita GERD. Ketika penyakitnya itu kambuh biasanya bisa sampai hitungan bulan membuat bapak tidak bisa bekerja. Saat aku pulang kampung itu, bapak baru saja dibawa ke dokter karena penyakitnya kambuh dan membuatnya sering muntah-muntah dan batuk berkepanjangan.

Aku melihat bapak masih menyimpan banyak obat-obatan. Sebagian obat yang didapat dari dokter, sebagian dari kegiatan bulanan posyandu untuk orang tua, dan sisanya beli sendiri dari warung. “Ini tantangan terberat”, batinku. Aku tahu kalau bapak suka minum obat-obatan kimia. Ibu mengaku sudah berkali-kali melarang bapak untuk mengonsumsi obat kimia berlebihan namun tidak dituruti.

Aku berusaha memahamkan bapak terkait pengaruh obat-obat kimia itu beserta efek adiktifnya. Disamping itu, aku juga mengatakan kalau konsumsi obat kimia akan membuat efek detoks saat menjalani FC terasa berat. Hari itu, aku semacam membuat kesepakatan tak tertulis dengan bapak yang isinya “jika bersedia mengikuti FC harus meninggalkan minum obat-obatan itu”. Bapak menyanggupinya.

Perjalanan Mendampingi Bapak Menjalani FC

Awal-awal bapak menjalani FC, aku selalu menanyakan apa yang dirasakan. Sehari bisa sampai berkali-kali menanyakan hal itu padanya. Aku memantaunya dengan sangat ketat. Air jeruk nipis hangat, buah-buahan, kudapan dan teh rempah sore, jus sayur, sampai makan malam aku siapkan bergantian dengan istriku setiap hari.

Ketika bapak mengalami healing crisis, aku sempat khawatir kalau bapak menyerah dan tidak mau menjalani FC lagi. Namun aku salah. Bapak tetap bersedia menjalani FC dengan senang hati meskipun seringkali beliau mengeluh menjadi mudah capek.

Setelah beberapa hari menjalani FC, bapak sudah mulai kuat pergi jamaah sholat di musholla. Beliau rajin jamaah sholat 5 waktu saat sehat. Namun jika GERDnya kambuh bisa sampai sebulan libur jamaah.

Aku membuat aturan yang super ketat untuk bapak. Usai berjamaah sholat subuh di musholla dan setelah membaca Al-Qur’an (kegiatan rutin bapak setiap hari kalau sedang sehat), bapak harus minum jeruk nipis hangat yang sudah kusiapkan, setelah itu jalan sehat. Jadwal makan buah, minum jus sayur, kudapan dan teh rempah, makan malam, dan jus sayur penutup kusiapkan sedemikian rupa dengan dibantu istriku. Aku berusaha khidmah pada bapak dengan sebaik-baiknya.

Sekarang ini, kesehatan bapak sudah sangat baik. Sudah bisa bekerja di sawah lagi. Sudah bisa aktif jamaah di musholla lagi. Meskipun terkadang mau beli buah saja susah karena tidak punya uang, beliau tetap mantap menjalani pola makan FC. Pekerjaannya di sawah sangat berat tapi tidak membuatnya takut kelaparan dengan hanya sarapan buah saja.

Mendampingi Orang Lain

Pengalaman usahaku menyembuhkan GERD dengan pola makan FC serta mendampingi bapak yang juga FC untuk GERD sebagian kutulis di FB atau blog. Disamping itu, istriku juga menulis dengan versinya sendiri di FB maupun blognya sendiri.

Dari beberapa tulisan yang dimuat itu, ada beberapa orang yang tertarik menjalani FC. Ada yang karena GERD, vertigo, kista, myom, dan lain sebagainya. Mereka tanya apa itu FC dan bagaimana cara melakukannya.

Kebanyakan dari mereka langsung kuarahkan ke grup Sehat Dengan Food Combining agar mendapat panduan dari yang lebih ahli. Hanya saja, aku dan istri tetap mendampingi mereka. Kapan pun curhat mengenai penyakitnya ya kami tampung. Hanya saja, kami tidak akan berani memberikan rekomendasi di luar juklak FC. Kalau rekomendasi medis ya tetap harus ke pihak medis. Curhatannya dengan kami hanya sebatas mengatur pola makan dan mengendalikan stres saja. Tidak lebih dari itu.

Kami tidak akan berani memberikan arahan-arahan teknis yang bersifat medis untuk orang lain. Meskipun seandainya cara medis itu cocok untukku atau untuk bapakku berdasar pengalaman masing-masing, tapi belum tentu cocok untuk orang lain.

Terakhir. Tulisan ini hanya untuk bahan referensi saja. Bukan untuk mengganti arahan atau tindakan medis yang telah diberikan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya.

Pencarian Terkait:

Kata Kunci

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: nusagates@gmail.com. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close