Nusagatizen

Aksi Boikot Inul Adalah Bidah

Malam ini, aku baru tahu kalau ada aksi baru di Indonesia, yaitu Aksi Boikot Inul. Aksi yang menurutku pribadi wagu dan terlalu lebai.

Berdasarkan pantauanku melalui beberapa sumber menyebutkan bahwa aksi boikot Inul tersebut dipicu oleh haters Ahok (Calon Gubernur DKI Jakarta) yang melihat Inul mengunggah foto bersama Ahok di akun Instagram milik pribadinya. Foto yang diunggah Inul tersebut mendapat respon yang luar biasa dari followernya. Termasuk respon bernada pedas.

Melihat akun Instagramnya mendapat banyak komentar pedas, Inul pun membalasnya dengan kata-kata yang tak kalah pedasnya. Kutipan isi komentar Inul yang membuat tambah panas adalah baguan berikut,

Aku cuma bayangin yang pake syurban bisa mojok sama wanita sambil main sex skype itu piye critane bisa jadi panutan? Jangan merusak moral kita soal Rasis-Sara-dan agama,

Komentar itu dianggap sebagai bentuk penistaan terhadap ulama dan membuat mereka yang tidak suka dengan komentar tersebut jadi ramai-ramai menyerukan aksi boikot Inul dengan tagar #BoikotInulDaratista.

Entahlah! Mereka dapat ide aksi boikot Inul itu darimana. Sependek yang aku ketahui, baginda Nabi tidak pernah mengajarkan aksi boikot seperti itu. Ketika baginda Nabi diludahi, dilempari kotoran binatang, dilempari batu, beliau tidak menyerukan boikot terhadap pelakunya. Sebaliknya, beliau malah mendoakan kebaikan untuk pelaku.

Kita ambil contoh ketika baginda Nabi pergi ke Thaif. Ketika sampai di sana malah dilempari batu sama penduduknya. Melihat hal itu, malaikat Jibril marah dan meminta izin kepada baginda Nabi untuk menggencet penduduk Thaif dengab gunung. Tapi, baginda Nabi menolaknya kemudian berdoa, “Allahummahdi Qoumi Fainnahum La Ya’lamuuna”. Baginda Nabi memintakan petunjuk untuk kaum di Thaif karena beliau merasa perbuatan yang dilakukan mereka (melempari baginda Nabi dengan batu) dikarenakan mereka belum tahu (belum mendapat hidayah). Bukan malah menyerukan kepada pengikutnya untuk memboikot mereka.

Contoh lainnya lagi adalah nabi juga tidak menyerukan boikot kepada seorang wanita tua beragama Yahudi yang sering mencela beliau. Wanita tua itu adalah seorang pengemis dengan kondisi buta. Ia adalah seorang provokator ulung. Setiap ada orang yang mendekatinya akan diprovokasi untuk menjauhi dan membenci baginda Nabi.

Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya

Bayangkan saja kalau ucapan nenek yang beragama Yahudi di atas diucapkan sekarang dan ditujukan kepada orang pakai syurban yang dimaksud Inul dalam komentarnya. Mungkin nenek itu akan diboikot dan dituntut menggunakan UU ITE tentang pencemaran nama baik. Namun, baginda Nabi tidak mengajarkan begitu. Beliau tetap bersikap santun kepada sang nenek dan dengan sabar setiap hari menyuapinya sambil mendengarkan ujaran-ujaran kebencian yang ditujukan padanya. Kehalusan budi pekerti baginda Nabi itulah yang kemudian membuat nenek itu tersentuh hatinya kemudian mengikrarkan dua kalimah syahadat.

Aksi boikot (sependek yang aku ketahui) sering dialami oleh umat baginda Nabi pada masa itu. Bertubi-tubinya aksi boikot dan fitnah yang dialami oleh baginda Nabi beserta umatnya membuat baginda Nabi memutuskan untuk hijrah ke Madinah karena tak kuasa melihat penderitaan umatnya. Hal yang paling dipikirkan baginda Nabi adalah umatnya. Beliau seakan tak peduli beliau atau agamanya dihina. Tapi, kalau umatnya yang dibuat sengsara maka beliau akan turun tangan. Sangking cintanya beliau kepada umatnya hingga ketika beliau menjelang wafat yang dipikirkan tetap umatnya, “ummati… ummati… ummati…”, rintih baginda Nabi ketika sakarotul maut.

Akhir-akhir ini, aku sering melihat ada aksi semacam “bela ulama, bela Islam, bela Al-Qur’an” dan aksi bela-bela lainnya. Apakah kegigihan aksi bela membela itu juga berlaku untuk membela hak minoritas yang terabaikan? Misalnya buat Aksi Bela Warga Kendeng yang lingkungan dan hidupnya dinistakan. Aksi bela ibu-ibu dari Kendeng yang nekat menyemen kakinya untuk mempertahankan tanah airnya. Menurutku aksi bela warga Kendeng itu jauh lebih manusiawi dan sesuai dengan yang dicontohkan baginda Nabi.

Apakah aksi boikot Inul lebih mulia dibandingkan dengan aksi bela warga Kendeng? Kalau menurutku sih enggak. Gak tau kalau mas Anang.

Lukisan Gus Mus Berdzikir Bersama Inul

Ilustrasi: Lukisan Gusmus dengan judul Berdzikir Bersama Inul

Cheers
Nusagates

Tahukah Kamu Arti pada-3?

pa·da 3 adv cak sama-sama (untuk menyatakan bahwa yg melakukan banyak): mereka belum -- datang
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

2 komentar

    1. Makasih atas komentarnya. Jika ada bagian paragraf yang kurang ber kenan mohon ditandai agar bisa dikoreksi oleh admin. Sekali lagi terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close