Nusagachild

Air Sebagai Media Belajar Anak Usia Dini

Orang tua yang sangat peduli pada tumbuh kembang anaknya akan berusaha mencari media-media edukatif yang bisa dijadikan stimulus positif pada pertumbuhan fisik, motorik, maupun psikologi anak. Beraneka ragam mainan yang nampak mengusung tema edukatif akan diboyong ke rumah demi mendukung pertumbuhan anaknya tersebut. Tak jarang mereka yang berkantong tebal rela merogoh kocek dalam-dalam untuk memberikan stimulus-stimulus yang dirasa sangat cocok untuk pertumbuhan anaknya.

Lalu bagaimana kalau orang tua tak memiliki uang untuk membelikan permainan edukatif untuk anak-anaknya yang masih pada tahap pertumbuhan itu?

Sebagai orang tua laki-laki, sering kali aku hanya menjadi penonton saja ketika istriku memberikan permainan-permainan yang menurutku tampak aneh dan tak berguna. Biasanya aku bertanya pada doi ketika permainan itu telah diselesaikan bersama si K, anakku yang pertama. Setelah mengetahui jawabannya biasanya aku baru sadar bahwa asumsi awalku yang menganggap bahwa permainan yang dimainkan doi dengan si K tak berguna adalah kesalahan. Ia menjelaskan dampak positif permainan itu dari sisi psikomotorik ataupun lainnya. Pokoknya banyak deh. Hingga aku lupa apa saja manfaatnya. Ketika aku merasa tak percaya dan menuduhnya mengada-ada saja malah disodori jurnal bahasa Inggris. Halah… mending kabur aja deh.

Salah satu permainan yang tampak aneh bagiku adalah permainan memindahkan air dari sebuah ember ke dalam botol. “Lhah… gitu aja kok dianggap permainan edukatif. Sisi edukasinya di sebelah mana?”, pikirku. Widut yang tampak mulai merasakan uneg-unegku melalui mata batinnya kemudian mulai merapal mantra sambil komat-kamit. Eh… tampak mau membahas jurnal. Aku pun segera kabur saja.

Merasa tak bisa menjelaskan secara langsung, Widut kemudian menulisnya secara singkat ke dalam sebuah status Facebook. “Weladala… arek iki. Senengane mekso”, batinku.

Beberapa hari kemudian, aku baru sadar ternyata permainan itu benar-benar memberi dampak positif bagi si K (menurutku pribadi, lho). Si K yang awalnya selalu minta digendong setelah habis hujan karena gak mau kakinya kotor terkena tanah becek mulai berani jalan meskipun dengan kaki terjinjit-jinjit. Uhui… elok nian pemandangan itu. Tapi sebenarnya bukan itu sih niat awalnya. Kalau menurut Widut sih yang mau diasah dari permainan itu adalah transfer-skill atau skill memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Jujur saja! Awalnya aku benar-benar tak pernah berpikir kalau skill model gitu-itu perlu diasah sejak dini. “Nanti seiring berjalannya waktu pasti bisa mindah benda sendiri. Paling tidak skill itu sudah mulai nampak tanpa diasah. Buktinya si K bisa memindah handphone dari tangan ibunya ke tanah (banting handphone) hingga LCDnya pecah”, pikirku. Tapi… eh.. tapi jangan deh berani-berani mendebat Widut kalau bacaanya seputar isu PKI bangkit atau perdebatan bumi datar atau bulat. Nanti kalo disodori jurnal paling-paling ya kabur sepertiku…

Salam damai dari wkwkwkwk land.

Kata Kunci
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close