Nusagatizen

Adzan Maghrib Itu Kini Merana

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan bulan ramadhan penuh dengan keberkahan. Yang menciptakan 1 syawal penuh dengan keceriaan dan keakraban.

 اللهم اجعلنا من العائدين والفائزين وتقبل الله منا صيامنا و كل ما عملنا في رمضان

Bulan ramadhan baru berakhir kemarin. Bulan di mana banyak umat Islam berbondong-bondong ke masjid, langgar, surau, ataupun tempat lainnya yang digunakan untuk menjalankan sholat tarawih berjamaah. Mulai dari yang masih belia sampai yang sudah renta tampak ikut berbaris untuk menyemarakkan tempat tersebut.

Sholat tarawih seakan menjadi ibadah paling favorit di bulan ramadhan dibandingkan ibadah lainnya. Terlambat (masbuq) sholat isya’ berjamaah pun tak jadi soal. Yang penting bisa ikut hadir pada saat sholat tarawih dijalankan. Entah ikut menyempurnakan (ikmal) sholat tarawih sesuai yang dikomndo imam atau sekedar menjalankan beberapa rekaat saja kemudian duduk bersimpuh menunggu jamaah tarawih selesai kemudian ikut membubarkan diri.

Hal lain yang tak kalah menjadi idola di bulan ramadhan adalah kumandang adzan maghrib. Gema ini paling dinanti-nanti oleh umat Islam. Sebagian menantinya karena ingin segera melepas rindu dengan sujud dan bersimpuh menghadap-Nya, sebagian yang lain sangat menantinya karena rindu mengisi perut dengan aneka hidangan yang telah tersaji atau sekedar mengisap cerutu lokal yang telah membudaya.

Menjelang adzan maghrib di bulan ramadhan, biasanya suasana sekitar terasa hening. Ibu-ibu tampak khusyu menyiapkan sajian untuk berbuka puasa, bapak-bapak duduk bersimpuh di depan televisi menunggu kumandang adzan, anak-anak asyik bermain. 10 menit menjelang adzan maghrib biasanya permainan petasan dihentikan. Hal ini bisa diumpamakan waktu imsak ketika sahur. Warning untuk mengingatkan bahwasannya waktu puasa hampir mulai atau berakhir.

Semuanya tampak bersungguh-sungguh benar menanti gema adzan maghrib dikumandangkan. Bagi para remaja yang merasa sudah tak elok jika ikut bermain petasan bersama adik-adik biasanya memilih memainkan gadget untuk mengisi kebosanan yang menyapa ketika waktu tunggu adzan maghrib terasa begitu lama. Detik-detik yang ditunjukkan oleh jam digital pada gadgetnya seakan sangat lambat perubahannya.

Hari ini, 1 syawal telah tiba. Itu tandanya umat Islam harus beraya. Tangis haru tampak mewarnai keriuhan hari raya. Sanak saudara, tetangga, handai taulan tampak saling bermaaf-maafan dan berbagi senyum. Sangat indah dipandang mata. Keriuhan canda tawa beriring senyum membuat waktu terasa begitu cepat. Hingga tak terasa 1 syawal akan berganti ditandai dengan meredupnya sinar sang surya.

Ketika adzan magrib berkumandang, para a’idin dan a’idat seakan terkejut dengan berujar, “Lhoh, kok sudah adzan?”. Gema adzan yang kemarin sangat diidam-idamkan seakan berubah menjadi suara pengganggu kebersamaan dan keceriaan. Masih mending jika protesnya itu diikuti dengan tergeraknya hati untuk berbondong-bondong menuju pusat suara, banyak di antara mereka malah tetap asyik bergurau ria dan membiarkan anak-anaknya berbondong-bondong mengambil sebongkok kembang api untuk dibakar bersama-sama. Aduhai. Sungguh kasihan! Adzan maghrib itu kini merana.

Salatiga, 25 Juni 2015
Ahmad Budairi

Tahukah Kamu Arti ad libitum?

ad li·bi·tum Lt a seturut keinginan, sesuai dng cita rasa (dl bersantap, berbusana, menata dekorasi, menata perlengkapan rumah, dsb)
Selengkapnya...

Ahmad Budairi

Seorang blogger yang bekerja menjadi freelancer di bidang bahasa pemrograman. Baca biografi Ahmad Budairi atau kunjungi lapaknya di Fiverr. Kontak via email: [email protected]. Hubungi via 0822 2500 5825

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close