7 Mitos Rumah Sakit Jiwa (RSJ)

Rumah Sakit Jiwa atau disingkat RSJ merupakan rumah sakit yang secara khusus dibangun untuk memperhatikan kesehatan jiwa masyarakat. Rumah sakit jiwa sebenarnya tidak hanya menyediakan layanan untuk orang-orang gila saja. Terdapat berbagai layanan kesehatan jiwa lainnya seperti konseling, tes psikologi dan lain sebagainya. Sayangnya pengetahuan serta manfaat dari rumah sakit jiwa kurang tersampaikan kepada masyarakat dengan benar. Berkembangnya mitos yang ada justru malah membuat masyarakat semakin memandang buruk rumah sakit jiwa. Yuk kenali mitos rumah sakit jiwa yang beredar di masyarakat.

Rumah Sakit Jiwa hanya untuk pasien ODGJ berat

Banyak orang yang beranggapan bahwa rumah sakit jiwa hanya digunakan oleh Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat saja. Padahal kenyataannya semua orang yang memiliki gangguan jiwa baik ringan, sedang, maupun berat disarankan untuk selalu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater yang tersedia di Rumah Sakit Jiwa. Agar kondisi mereka bisa terpantau dengan baik. Mereka yang memiliki gangguan jiwa ringan dan sedang cukup menjalani rawat jalan.

Orang yang periksa di RSJ merupakan orang gila

Rumah sakit jiwa tidak hanya memberikan fasilitas untuk penderita ODGJ saja. Tidak benar jika semua orang yang periksa di RSJ adalah orang gila. Terdapat berbagai pelayanan di dalam RSJ.

Instalasi Psikologi menyediakan berbagai layanan. Seperti:Tes Psikologi, konseling, psikoterapi, dan lain sebagainya. Selain itu rumah sakit jiwa juga menyediakan klinik umum dengan berbagai dokter umum dan spesialis. Klinik umum tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyakit fisik yang mempengaruhi kesehatan mental pasien, ataupun sebaliknya

Suasana di didalam RSJ menakutkan

Beberapa orang beranggapan di dalam rumah sakit jiwa memiliki suasana yang sepi dan menyeramkan. Padahal pada kenyataannya rumah sakit jiwa memiliki suasana seperti rumah sakit pada umumnya. Bahkan para pasien mulai diajak untuk melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Seperti: olahraga, membuat kerajian, dan kegiatan lainnya sesuai dengan tingkat gangguan yang mereka alami.

Orang dengan gangguan jiwa yang parah tidak akan dilepas begitu saja di dalam area RSJ, jadi tidak perlu khawatir dikejar atau diganggu oleh orang dengan gangguan jiwa kategori parah.

Pasien RSJ suka teriak-teriak tidak jelas

Sinetron yang menjadi tontonan masyarakat Indonesia kerap kali menggambarkan pasien rumah sakit jiwa sering berteriak tidak jelas. Hal tersebut memang benar ketika pasien belum mendapatkan penanganan yang tepat oleh psikiater. Mereka yang baru masuk akan diberikan pada bangsal khusus, sebelum hasil dignosisnya keluar. Namun, ketika mereka sudah berada pada bangsal dan penanganan yang sesuai, hal tersebut sangat jarang terjadi.

RSJ Terkesan kecil dan pengap

Penggambaran kondisi RSJ di sinetron Indonesia cukup menyedihkan. Hal ini menyebabkan orang-orang mengira bangsal yang dihuni oleh ODGJ cenderung kecil dan pengap, dengan pasien RSJ yang banyak dan menakutkan.

Pada kenyataannya, RSJ memiliki tempat yang sangat luas. Bahkan pasien bisa melakukan berbagai aktifitas di dalam bangsal. Bangsal yang disediakan pun dibagi berdasarkan gender, penyakit yang diderita, dan usia pasien.

Banyak alat aneh untuk pasien ODGJ di RSJ

Masyarakat banyak yang mengira bahwa seseorang yang mengidap ODGJ, ketika mereka berada di rumah sakit jiwa akan dihadapkan oleh alat-alat aneh. Seperti: kursi listrik serta diberikan kostum tertentu yang digunakan untuk mengurangi pergerakan mereka.

Padahal pada kenyataannya mereka diberi fasilitas yang ada di dalam RSJ diberikan sesuai dengan terapi yang mereka butuhkan. Tidak semua pasien RSJ membutuhkan kursi, rantai ataupun jeruji untuk membatasi gerak mereka. Bahkan RSJ menyediakan fasilitas untuk refreshing seperti gelanggang olahraga, perpustakaan bahkan fasilitas untuk menyalurkan hobi lainnya.

Orang yang ke Psikolog/ Psikiater ke RSJ Dianggap Lemah Iman

Kesadaran yang minim dari masyarakat tentang kesehatan mental membuat seseorang kerap mengabaikan tanda-tanda yang muncul. Selain itu stereotipe yang berkembang sering kali membuat seseorang takut untuk melakukan konseling pada psikolog. Kebanyakan orang menganggap bahwa seseorang yang berkonsultasi pada psikolog/ psikiater dianggap memiliki iman yang lemah. Padahal berkonsultasi dengan psikolog merupakan hal yang wajar, karena setiap orang memiliki mental yang berbeda ketika dihadapkan oleh sebuah masalah. Maka disitulah peran psikolog untuk membantu seseorang dalam penyelesaian masalahnya.

Perlu diingat bahwa rumah sakit jiwa tidak hanya digunakan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa saja. Memang pada beberapa fasilitas untuk penanganan ODGJ. Namun, bukan berarti orang yang datang hanya pasien ODGJ saja. Kita bisa melakukan konseling atau hanya sekedar bercerita dan mengeluarkan keluh kesah kita kepada psikolog. Karena kesehatan mental kita sangat perlu diperhatikan. Seseorang yang memiliki gangguan mental bukan berarti dirinya tidak percaya pada Tuhan. Namun, mereka terkadang butuh bantuan orang yang lebih ahli dalam membantunya mengurai masalah dan mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Sampaikan pendapatmu di sini.
Pattika Reyhan
Pattika Reyhan
Seorang mahasiswa Psikologi, yang suka mengekspresikan sesuatu lewat sebuah tulisan

Bacaan Menarik Lainnya

Tanggapan Kamu?

Baru Terbit