4 Mitos Buaya di Pulau Jawa

24
4 Mitos Buaya di Pulau Jawa
4 Mitos Buaya di Pulau Jawa

Buaya termasuk dalam kelas reptil yang memiliki kulit keras dan merupakan salah satu hewan purba yang mengalami sedikit evolusi dari bentuk aslinya di zaman purbakala. Mitos buaya di Pulau Jawa sangat beragam. Keberadaanya yang sangat misterius, serta umurnya yang cukup panjang membuat banyak hal tentang buaya menjadi menarik untuk diulik. Buaya merupakan salah satu hewan yang seringkali dikaitkan dengan berbagai cerita masyarakat. Dalam beberapa hal, buaya banyak dikaitkan dengan kejadian mistis maupun budaya yang ada di pulau jawa.

Mitos Buaya putih penunggu bendungan Barugbug Karawang

Cerita yang beredar di daerah ini adalah banyaknya orang yang kerasukan makhluk halus. orang-orang yang kerasukan ini biasanya meminta untuk tidak mengotori bendungan serta larangan untuk bertindak asusila dan berniat jahat di wilayah itu. kisah penunggu bendungan ini berkembang di masyarakat sebagai legenda turun temurun di masyarakat desa Barugbug.

Mitos Buaya putih di sungai Brantas Kediri

Kemunculan buaya putih di kediri ini pernah viral ditahun 2020. hal ini berawal dari beberapa video yang didokumentasikan oleh warga saat memancing di sungai Brantas. Adanya buaya putih tersebut membuat tim BKSD Kediri sampai BKSDA Jawa Timur menyisir sungai Brantas. Namun sampai hari terakhir masa penyisiran, tidak ditemukan adanya buaya di sungai Brantas. masyarakat sekitar menyebut bahwa keberadaan buaya putih sebagai pertanda kejadian baik yang akan terjadi di kabupaten Kediri.

Mitos Buaya di sungai Cileungsi, Bogor

Kejadian ini terekam video oleh warga setempat. warga berspekulasi bahwa kemunculan buaya putih karena pencemaram sungai yang semakin parah. hal ini membuat buaya sebagai penunggu sungai Cileungsi marah. buaya yang terekam video tersebut berwarna putih dengan corak hitam dibagian ekornya. panjang buaya ini sekitar 3m.

Mitos Buaya Putih Penunggu Encuk dan Roti Buaya

Penggunaan roti buaya pada pernikahan adat betawi dipilih karena letak geografis Jakarta dahulu dikelilingi oleh sungai. sehingga sering menjumpai buaya disana. selain itu, terdapat pula mitos bahwa buaya adalah penunggu sumber mata air. Cerita yang beredar menyebutkan bahwa sang buaya menjaga sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat itu dengan penuh kesetiaan. Hal ini juga sesuai dengan sifat buaya sebagai monogami, yaitu 1 buaya jantan hanya berpasangan dengan 1 buaya betina sepanjang hidupnya.

Sampaikan pendapatmu di sini.

Tanggapan Kamu?