10 Fakta Tentang Pondok Modern Darussalam Gontor

25
Pondok Pesantren Gontor
Pondok Pesantren Gontor

Pondok Modern Darussalam Gontor, atau Pondok Gontor dikenal telah melahirkan tokoh-tokoh terkemuka tak hanya di bidang agama, melainkan juga sosial budaya, politik dan berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dr. Idham Chalid, KH. Hasyim Muzadi, Dr. Nurcholis Majid, Abubakar Ba’asyir, Prof Roem Rowi, Dr. Hidayat Nur Wahid adalah beberapa tokoh yang sempat mengenyam pendidikan di Gontor.

Terletak di dusun Gontor, Mlarak Ponorogo. Sekitar 10 Kilometer di selatan pusat kota, pondok pesantren yang memiliki jaringan alumni sangat kuat dan diakui hingga di manca negara ini mampu bertahan hingga menjelang usia satu abad. Uniknya meski beberapa alumninya menjadi tokoh-tokoh politik terkemuka, Gontor tetap konsisten tidak berpolitik praktis.

10 Fakta Tentang Pondok Modern Darussalam Gontor 1
Pondok Pesantren Gontor | © Dwi Aprilytanti Handayani

Berikut adalah 10 fakta tentang Pondok Modern Darussalam Gontor:

Berusia lebih tua dari Republik Indonesia

Berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor adalah sebuah sejarah panjang. Cikal bakal pondok Gontor diawali oleh pendirian Pondok Tegalsari pada abad ke-18. Dari pondok yang menjadi cikal bakal pendidikan pondok-pondok pesantren di Indonesia ini kemudian muncul pesantren Gontor lama yang semakin berkembang pesat di bawah kepemimpinan KH Anom Besari. Hingga akhirnya kepemimpinan berada di tangan generasi keempat. Adalah tiga bersaudara yang dikenal dengan sebutan Trimurti KH. Ahmad Sahal (1901-1977) KH. Zainuddin Fanani (1908-1967) KH. Imam Zarkasyi (1910-1985) memperbaharui sistim pendidikan pondok dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada  20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 H

Memiliki Badan Wakaf sebagai pemegang kekuasaan tertinggi

Lembaga tertinggi di pondok Gontor adalah Badan Wakaf yang beranggotakan 15 orang. Salah satu tugas Badan Wakaf adalah memilih pemimpin pondok dan pengawasan pengelolaan keuangan. Keberadaan Badan Wakaf menjadi bukti bahwa aset dan keuangan pondok bukan milik para kyai sebagai pimpinan namun 100% adalah milik pondok Gontor sebagai institusi .

Memiliki 12 cabang pondok putra dan 8 pondok putri

Selain pondok pusat di Gontor, Mlarak, Pondok Gontor hingga tahun 2021 telah memiliki 12 cabang pondok putra yang tersebar di Siman Ponorogo, Gurah Kediri, Banyuwangi, Magelang, Kendari Sulawesi Tenggara, Kalianda Lampung Selatan, Aceh Besar, Solok Sumatera Barat, Jambi, Poso Sulawesi Tengah dan Siak Riau. Pondok putri terletak di Mantingan, Ngawi (Gontor Putri 1 dan 2), Widodaren Ngawi, Konawe, Kandangan Kediri, Poso Pesisir, Kampar Riau dan Labuhan Ratu Lampung.

Memiliki Kurikulum Mandiri yang diakui pemerintah RI

Gontor menerapkan kurikulum mandiri yang tidak mengacu pada kurikulum nasional. Pondok Gontor menerapkan kurikulum Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah yang telah mendapat pengakuan dari pemerintah RI sejak tahun 1999. Kalender akademiknya berdasarkan bulan-bulan Hijriyah. Awal tahun ajaran dimulai setiap 10 Syawal. Pergantian semester ganjil ke semester genap berlangsung di bulan Rabi’ul Awal. Libur sekolah di hari Jumat, Hari Raya Idul Adha, Idul Fitri dan 1 Muharram. Selain tiga hari libur nasional tersebut, meski tanggal merah santri Gontor tetap sekolah.

Dikenal sebagai pondok dengan kedisiplinan tinggi

Gontor dikenal dengan pondok yang menerapkan kedisplinan tinggi. Melanggar peraturan bisa dikenai sanksi. Terlambat masuk sekolah siap-siaplah menerima hukuman. Tertangkap curang saat ujian bisa dikenai sanksi skorsing 1 tahun ajaran atau dipindah ke pondok lain cabang. Semua nafas kehidupan santri harus antri. Baik itu di depan kamar mandi, di dapur umum, di kantor administrasi untuk membayar SPP atau mengambil kiriman, di kantin atau koperasi, di manapun atau kegiatan apapun santri wajib antri.

Bahasa sehari-hari adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris

Di sekolah maupun asrama, santri dan para pengajar hanya diperbolehkan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jika ketahuan pengawas menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah maka siap diadili di mahkamah untuk menerima hukuman. 

Memiliki Universitas sendiri

Pendidikan di pondok Gontor ditempuh dalam waktu 6 tahun untuk santri lulusan SD sederajat atau 4 tahun untuk santri lulusan SMP sederajat dan setiap santri lulus pendidikan KMI diwajibkan mengabdi minimal satu tahun. Salah satu tempat pengabdian usai lulus pendidikan KMI adalah Universitas Darussalam di Siman Ponorogo. Universitas Darussalam adalah perguruan tinggi bersifat pesantren milik Pondok Gontor. Bagi beberapa alumni yang ditunjuk mengabdi sambil mengajar, kegiatan belajar mengajar kuliah diselenggarakan di  pondok pesantren masing-masing

Universitas-Darussalam-Gontor
Universitas Darussalam Gontor | © unida.gontor.ac.id

Memiliki badan-badan usaha produktif

Pondok Gontor menerapkan ekonomi protektif. Pondok modern ini memiliki badan-badan usaha produktif di segala bidang. Selain kantin dan koperasi khusus santri, Pondok Gontor memiliki bisnis: toko buku, toko serba ada, toko besi dan bahan bangunan, pabrik AMDK, pabrik roti, percetakan, konveksi, SPBU, penginapan, rumah sakit, bengkel mobil dan berbagai jenis usaha lain. Laba bisnis masuk ke kas pondok dan antara lain digunakan untuk menggaji guru serta uang saku bagi ustadz/ustadzah dalam masa pengabdian. 

Penugasan santri di berbagai aktivitas pondok

Semua kegiatan pemeliharaan pondok hampir seluruhnya dilakukan para santri. Penjagaan keamanan, kebersihan lingkungan hingga menyiapkan masakan untuk sarapan, makan siang dan malam dilakukan para santri berdasarkan sistim piket atau ditunjuk oleh pihak pondok. Bahkan pagelaran seni tahunan yang disebut Drama Arena dan Panggung Gembira segala sesuatunya dikerjakan santri, baik itu dekorasi, penataan panggung hingga lighting menjadi tanggung jwab santri kelas 5 dan 6 KMI di bawah bimbingan para guru.

Sistim ujian yang berbeda dengan sekolah pada umumnya

Sebagai penilaian atas pengetahuan dan kecakapan santri selama menempuh pendidikan, dilaksanakan ujian setiap akhir semester selama satu bulan. Santri harus menempuh ujian lisan dengan empat penguji kemudian dilanjutkan dengan ujian tulis bentuk esai. Nilai raport Gontor adalah nilai murni dari hasil ujian akhir. Tidak ada nilai bantu dari hasil tugas atau ujian harian maupun tengah semester. Khusus ujian menjelang kelulusan, santri kelas 6 akan menghadapi ujian tulis untuk semua mata pelajaran sejak kelas 1 KMI, ujian lisan serta ujian mengajar.

Pendidikan pesantren adalah miniatur kehidupan. Di Gontor para santri tak hanya berinteraksi dengan santri lain dari Sabang sampai Merauke, tetapi juga santri dari beberapa negara lain seperti Malaysia, Korea, Jepang, Australia yang menuntut ilmu di sini.

Sampaikan pendapatmu di sini.

Tanggapan Kamu?